Selasa, 24 Januari 2012

TV - Media Hiburan atau Penghambat Perkembangan Anak??


Tahu tidak, menjauhkan si kecil dari televisi ternyata malah akan memberinya kesempatan mengembangkan beragam kecerdasan.

Saat menghadapi si kecil yang rewel, kita sering menggunakan cara gampang yang dianggap "ampuh", yakni mengajaknya nonton teve. Lalu, tak sedikit orang tua yang merasa bangga bila anaknya mampu menghapal kalimat atau lagu maupun akting yang didapatnya dari tayangan teve. Apa iya jurus tersebut memang benar-benar ampuh dalam arti kata sebenarnya? Apakah kemampuan si kecil menghapal lagu, kalimat, atau akting dari teve menjadi pertanda si kecil cerdas?

Ternyata itu semua justru salah kaprah dan tidak benar sama sekali. Membiarkan anak nongkrong sepanjang waktu di depan teve justru membuat kemampuan kerja otaknya jadi tidak terstimulasi dengan baik. Menurut dr. Adre Mayza, Sp.S. dari Tim pendidikan Anak Dini Usia (Padu) Universitas Negeri Jakarta dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) kasihan sekali bila anak yang masih di bawah usia dua tahun sudah dijejali tayangan televisi.

Di rentang usia 0-2 tahun, perkembangan cabang dan jaringan otak sedang pesat-pesatnya. Nah, dari teve, anak tidak akan mendapat stimulasi yang optimal bagi perkembangan itu. "Padahal ini akan berlanjut menjadi tidak terstimulasinya otak anak secara keseluruhan. Efeknya anak akan jadi manusia pasif. Kasihan, kan?"

HAMBAT JARINGAN

Secara terperinci Adre menjelaskan proses munculnya dampak merugikan tadi. Oleh karena tayangan teve bersifat audiovisual, dengan menontonnya anak akan mendapat semua masukan informasi secara bersamaan, baik suara maupun gambar yang berganti-ganti secara cepat. Nah, saat anak melihat sesuatu di layar teve berarti ia menangkap bentuk, warna, dan gerak objek. Bersamaan dengan itu, ia pun mendengar suara yang berkumandang.

Sayangnya, dengan mendapat dua bentuk informasi sekaligus (audio dan visual) dari teve, pola pikir anak malah jadi tidak terangsang secara keseluruhan. Pergantian gambar yang begitu cepat membuat rangsangan suara hanya "numpang lewat". Akibatnya cuma pusat visualnya saja yang terangsang, sementara pusat pendengarannya kurang.
Lain lagi jika anak mendapatkan stimulasi dengan menggunakan skala prioritas. Contohnya, jika anak mendengarkan lagu dari radio atau tape, maka menurut Adre, anak akan terfokus pada kegiatan mendengarkan lagu. Di saat yang sama, dia akan membayangkan seperti apa, sih, "bentuk" suara tersebut? Kok bisa, sih, lagu tersebut "menari-nari" alias ada naik turunnya?

Itu semua merangsang otaknya bekerja untuk membayangkan hal-hal tadi. Dengan kata lain, anak akan terstimulasi mengikuti alunan suara lagu atau musik yang didengarnya. Hal ini kurang lebih sama dengan yang terjadi pada bayi. Jika diperdengarkan suara-suara, si bayi pasti akan mencari-cari sumber suara tersebut.

Berbeda dengan anak yang disuguhi tayangan audiovisual. "Saat itu anak akan diam terpaku menyaksikan tayangannya yang berganti-ganti secara cepat. Otaknya pun tidak terstimulasi secara optimal karena yang terstimulasi hanya pusat visualnya. Padahal di usia ini, semua pusat di otak harus terstimulasi, mulai pusat visual, pusat pendengaran, sampai pusat gerak."

Lewat stimulasi itulah, Adre bilang, nantinya akan tumbuh cabang-cabang yang membentuk jaringan di otaknya. Jaringan inilah yang kelak berfungsi menghubungkan semua pusat tersebut dan inilah yang diharapkan terjadi melalui proses belajar anak dini usia. Berarti, kalau anak dibiasakan nonton teve sejak dini, selain hanya pusat visualnya saja yang terangsang, pada otaknya juga tidak akan terbentuk jaringan-jaringan yang menghubungkan pusat-pusat yang ada.

CIPTAKAN ANAK UNGGUL

Cabang-cabang neuron yang membentuk jaringan tersebut pada manusia normal jumlahnya bisa mencapai 100 hingga 200 milyar yang kemudian akan membentuk jaringan. "Cabang-cabang inilah yang menentukan seseorang kreatif atau tidak, dan cerdas atau tidak," kata Adre, "Soalnya, cabang-cabang inilah yang ternyata menentukan kemampuan gerak, kemampuan merespons, dan kemampuan refleks. Disamping itu, kemampuan daya tangkap dan konsentrasi anak juga ditentukan oleh rimbun tidaknya cabang-cabang ini, untuk nantinya mampu membedakan sesuatu, seperti membedakan warna ataupun bentuk."

Pada orang dewasa, cabang dan jaringan di sel-sel neuron (sel otak) ini banyak sekali. Terlebih pada mereka yang kreatif dan cerdas. Sedangkan pada anak-anak, jaringan-jaringan yang menghubungkan pusat-pusat kemampuan di otak belum terbentuk sepenuhnya. Nah, tugas orang tualah untuk membantu membangun jaringan-jaringan ini supaya cabang-cabang sel neuron tersebut bisa saling berhubungan dan bisa menghubungkan pusat-pusat di otak. Caranya, kata Adre, tak ada yang lain kecuali lewat proses belajar.

Yang jelas, proses belajar yang dimaksud bukanlah menonton televisi. Cara ini sama sekali tidak mampu menstimulasi secara optimal sel-sel neuron yang jumlahnya milyaran. Kalau sel-sel neuronnya tidak terstimulasi, tentu saja cabang-cabang otaknya pun tidak akan tumbuh dengan baik atau tidak bisa berkembang semuanya. Andaikan satu sel neuron memiliki 5 cabang, misalnya, kalau si anak gemar menghabiskan waktunya dengan nonton teve, paling-paling hanya 2 sel yang berkembang. Sayang sekali, kan, jika sebetulnya kemampuan anak bisa mencapai 5, tapi yang berkembang hanya 2.

Bila jaringan-jaringan sel neuron di otak terjalin secara optimal, dampaknya bakal menguntungkan. Anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang baik dalam perilaku ataupun sikapnya. Sementara sosialisasi dan interaksinya dengan lingkungan pun akan baik pula. Menurut Adre, anak-anak seperti ini biasanya akan bersikap ramah dan rendah hati, serta mau mendengar pendapat orang lain. Dengan kata lain, IQ, EQ, SQ, maupun CQ-nya berkembang baik.

Tidak susah, kok, memberikan stimulasi yang tepat, yakni hindarilah pemberian banyak konsep dan masukan dalam waktu bersamaan seperti halnya gambar dan suara yang berganti-ganti di teve. Sayang, kan, jika pembelajaran yang kita berikan kepada anak hanya merangsang pusat visual saja.

Hindari pula pembelajaran berupa gerakan tanpa berpikir yang hanya dapat merangsang pusat gerak. Misalnya, menggoyang-goyangkan tangan secara acak tanpa bertahap. "Sedangkan jika kita melakukan gerakan sambil berpikir, maka akan ada dua pusat di otak yang terang-sang. Kalau kita mampu merang-sang dua pusat ini, berarti kita telah membentuk sistem atau jaringan, dan inilah yang harus kita ajarkan kepada anak," ujar Adre.
Diposkan oleh TUMBUH KEMBANG ANAK CERDAS

Selasa, 13 Desember 2011

Membaca, Merangsang Terjadinya Lompatan Kecerdasan

Namanya Jennifer, lahir pada September 1984 dari rahim seorang ibu bernama Marcia Thomas. Berdasarkan hasil pemeriksaan para ahli, Jennifer dinyatakan positif menderita down-syndrom yang menyebabkan keterbelakangan mental yang ditandai oleh rendahnya IQ. Tidak itu saja, di usia yang masih sangat belia pula, Jennifer harus menjalani bedah korektifkarena mengalami gangguan jantung. Sebuah musibah yang lengkap!

Apa yang dilakukan Marcia Thomas? TERAPI. Marcia memberikan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan yang sangat kaya, sehingga kecerdasanya meningkat dan fungsi-fungsi inderanya bekerja lebih aktif. Caranya? Diet MEMBACA! Marcia membacakan 11 buku setiap hari kepada buah hatinya. Hasilnya? IQ Jennifer melonjak tajam ketika dites pada usia 4 tahun. IQ-nya 111. Salah satu penjelasan mengapa mengajarkan membaca pada bayi dapat melejitkan IQ adalah karena membaca merupakan kegiatan yang memberi rangsang paling kompleks bagi otak dibandingkan beberapa kegiatan lainnya, menonton TV misalnya.

Maka, sangat beralasan jika Amerika menjadikan pembelajaran membaca sejak dini sebagai strategi membangun sumber daya insani berkualitas tinggisejak bayi ketika mencanangkankebijakan "No Child Left Behind". Bagaimana dengan anak kita? Padahal sudah jelas bahwa firman Allah SWT yang pertama kali adalah perintah membaca.

Sumber : Positive Parenting, Mohammad Fauzil Adhim

Selasa, 06 Desember 2011

6 Manfaat Mendongengkan Anak Sebelum Tidur

Zaman dahulu sebelum kita tidur, orang tua sering kita membacakan sebuah dongeng sebelum tidur. Namun sekarang, hal itu sudah jarang dilakukan oleh orangtua muda. Padahal ada banyak manfaat dibalik mendongengkan cerita pada anak sebelum tidur.
Manfaat yang bisa didapatkan anak-anak dari rutinitas mendongengkan cerita sebelum tidur tidak hanya untuk intelektualnya saja, tapi juga secara emosional. Hal itu diungkapkan oleh Dr. Terri Apter, seorang psikolog sosial di University Cambridge (Health Today News)
Membaca buku cerita sebelum tidur tidak hanya bermanfaat bagi balita dan anak-anak, karena kaum remaja pun masih bisa mendapatkan manfaatnya. Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan :

Membantu Perkembangan Bicara Dan Bahasa Anak

Mengajarkan anak berbicara sudah bisa dimulai sejak awal kehamilan, karena orangtua yang mengajak anaknya berbicara akan direspons oleh otak anak dan berusaha untuk menyerap suara serta bahasa yang digunakan ibunya.
Jika kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur ini berlanjut, maka akan mendorong anak untuk berbicara dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Cara ini merupakan salah satu teknik belajar yang menyenangkan bagi anak.

Membantu Menenangkan Anak Yang Menangis

Membacakan dongeng sebelum tidur adalah salah satu cara penghilang stres yang efektif. Biasanya orangtua akan membacakan cerita dalam suasana santai dan nyaman, dramatisasi dengan membuat intonasi nada yang berbeda akan membuat anak tertarik untuk mendengarkan cerita. Lama kelamaan anak-anak akan merasa nyaman sehingga tingkat stresnya berkurang.

Membantu Meningkatkan IQ Anak

Pada anak yang baru belajar membaca, mendongengkan buku cerita yang sama berulang-ulang bisa membantunya mengajarkan bahasa, meningkatkan memori dan mengembangkan imajinasi. Saat pertama kali mendengarkan cerita, anak tidak bisa menangkap semuanya. Tapi jika diulang-ulang, maka anak akan memperhatikan pola dan urutan dari cerita tersebut.
Namun, orangtua harus memperhatikan jenis buku cerita yang akan didongengkan pada anak, misalnya tidak boleh membacakan cerita yang terlalu merangsang atau menakutkan bagi anak. Serta lakukan dengan cara yang positif dan menyenangkan agar bisa bermanfaat bagi anak.

Membantu Anak Agar Suka Membaca

Membacakan sebuah cerita sebelum anak tidur akan membuat anak mencintai buku dan menjadi senang membaca. Jika anak sudah cinta dengan buku, maka anak akan melihat buku sebagai teman yang menyenangkan seperti halnya mainan. Buku merupakan salah satu media aktif yang dapat menjaga kerja otak anak dan membantu anak menjadi lebih kreatif.

Membantu Mengembangkan Keterampilan Mendengarkan Anak

Jika anak ingin memahami isi dari buku yang didongengkan, maka anak harus mendengarkan ceritanya. Karena itu anak akan menyiapkan pikirannya untuk menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan menciptakan kata sendiri untuk memahaminya. Jadi anak akan mendengarkan dengan seksama dan berusaha menguasai keterampilan ini. Selain itu, cara ini juga membantu meningkatkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Membantu Anak Memiliki Pola Tidur Yang Sehat

Ketika anak-anak sudah terbiasa mendengarkan cerita sebelum tidur, maka ritual nyaman ini akan menjadi alarm bagi anak bahwa setelah itu adalah saatnya tidur. Kondisi ini akan membantu anak memiliki jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya, karena itu dianjurkan untuk melakukan rutinitas ini pada jam yang sama sejak anak masih kecil.

Sumber : http://gugling.com/2011/03/14/6-manfaat-mendongengkan-anak-sebelum-tidur/

Rabu, 05 Oktober 2011

Membaca Buku Vs Nonton TV

Mana yang lebih disukai anak Anda, buku atau televisi? Silahkan
simak beberapa hal berikut:

Hasil penelitian NIELSEN, rata-rata anak lulusan SMP telah
menghabiskan waktu 15.000 jam untuk menonton TV. Bandingkan dengan
waktu yang dihabiskan di kelas yang hanya 11.000 jam. Padahal,
menurut para ahli:
- Sumber cahaya yang berpendar dari TV meletakkan belahan otak
kiri dan kanan ke dalam gelombang alpha (slow wave of inactivity)
yang merusak keseimbangan dan interaksi antara belahan otak kiri dan
kanan.
- Hasil besaran fisik yang dipancarkan media audio visual
elektronik (medan magnet dan elektrik) masih jauh di bawah ambang
yang diijinkan WHO.
- Intensitas kebisingan televisi berpengaruh buruk terhadap
memori jangka pendek, kemampuan membaca dan konsentrasi.
- Gambar-gambar TV berubah cepat sehingga otak tidak sempat
memproses image secara baik.
- Menonton TV lebih dari 4 jam sehari menghambat perkembangan
keterampilan psikomotorik, bahasa dan sosial anak (The American
Academy of Pedriatics)
- Survei Depkominfo 2007 menunjukkan program acara pendidikan
di televisi hanya menempati 0,07 persen, sinetron 30,74 persen,
iklan 34,74 persen, berita 15,68 persen dan film serta hiburan 16,61
persen.
- Sejumlah riset merekomendasikan agar anak-anak di bawah usia
dua tahun tidak menonton televisi sama sekali dan agar anak-anak
yang lebih tua menonton televisi tidak lebih dari dua jam sehari
(The American Academy of Pedriatics)

Bandingkan dengan berbagai keistimewaan membaca buku:
- Membaca membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi.
- Berbeda dengan menonton yang cenderung pasif, membaca
mengaktivasi kemampuan berpikir dan menganalisis.
- Membaca menstimulasi rasa ingin tahu (kuriositas).
- Membaca memberi peluang lebih luas untuk menstimulasi
imajinasi.
- Membaca memberi rangsangan paling kompleks bagi otak. Ada
delapan aspek yang bekerja pada saat kita membaca, begitu kata Paul
C Burns, Betty D Roe dan Elinor P Ross dalam bukunya "Teaching
reading in today's elementary schools". Kedelapan aspek tersebut
meliputi: sensori, persepsi, sekuensial, pengalaman, berpikir,
belajar, asosiasi dan afeksi. Semua bekerja berbarengan saat kita
membaca.

Nah, silahkan Anda menentukan mana yang terbaik untuk anak Anda.